Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Mengapa Saya Harus Mencoblos ?

Pertanyaan mengapa biasanya digunakan manusia sebagai sarana berfilsafat. Kata mengapa-lah yang membuat manusia menemukan apa yang ingin mereka cari. Dengan kata mengapa jugalah manusia dapat memiliki keyakinan yang kuat akan hal yang ia yakini. Kata mengapa juga turut andil dalam seluruh kemajuan peradaban manusia dimuka bumi.

Saat tidak ada manusia yang berkata mengapa, maka bisa dipastikan tidak akan ada lagi perkembangan atau kemajuan didalam peradaban manusia. Oleh karena itu dalam menjalani kehidupan kembangkanlah kata mengapa itu.

Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang filsafat ataupun kata mengapa tersebut. Yang akan saya tekankan disini bahwa kita harus menemukan jawaban mengapa kita (saya sendiri, pembaca, maupun seluruh elemen masyarakat Indonesia) harus mencoblos pada saat tanggal 9 april mendatang.

Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa kata mengapa bisa menjadikan manusia memiliki keyakinan yang kuat. Dengan pertanyaan mengapa saya harus mencoblos, maka secara tidak langsung kita berfilsafat untuk merenungkan, mencari, memilah, mengkaji tentang pertanyaan tersebut.

Jawaban dari pertanyaan diatas memang seharusnya berasal dari individu-individu bukan jawaban dari orang lain, karena kedaulatan individu sangat diakui dan dijunjung oleh hukum di negeri ini, Indonesia. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa jawaban dari orang lain juga turut andil dalam menentukan pola pikir ataupun sebagai referensi seseorang dalam bertindak dan berperilaku. Dalam hal ini saya melihat manusia dari mazhab Humanistik.

Karena saya......

Jawaban dari pertanyaan diatas bisa bermacam-macam dan memiliki hasil yang bermacam-macam terhadap perilaku manusia nanti, karena jawaban tersebut dapat menjadi referensi manusia dalam menentukan pilihan. Akan tetapi sebelum menjawab pertanyaan tersebut mari kita melihat beberapa quote dari beberapa tokoh yang mungkin dapat menginspirasi dan menjadi objek kajian serta referensi dalam menjawab pertanyaan mengapa.

“apakah kita harus menunggu sampai negara ini bersih jika kita ingin melakukan perubahan?”-anies baswedan.

Lalu quote diatas dikuatkan oleh pernyataan gubernur jawa tengah terpilih,

“terlibatlah dalam perubahan, dan tebarkan virus kebaikan.”-Ginanjar Pranowo

Apa yang dapat kita ambil dan simpulkan dari kedua quote diatas?

Bahwa dalam memperbaiki keadaan republik ini kita tidak hanya bisa diam atau menunggu negara ini sempurna. Karena saat kita menuntut sebuah kesempurnaan tanpa perbuatan maka kita tidak akan pernah mendapatkan kesempurnaan tersebut. Akan tetapi jika kita menuntut sebuah kesempurnaan, maka kita akan mendapatkan kesempurnaan tersebut, setidaknya kesempurnaan yang bersifat subjektif yaitu kesempurnaan yang kita inginkan. Hanya dengan terlibatlah maka kita berperan dalam menentukan arah bangsa ini.

Dengan terlibat dalam perubahan, maka kita dapat sedikit-sedikit dengan tangan kita yang kecil ini membantu membersihkan negeri ini. coba anda bayangkan, jika anda terlibat dalam perubahan lalu mengajak orang lain dan orang lain tersebut mengajak orang lain lagi dan seterusnya, maka berapa banyak tangan-tangan kecil yang membantu membersihkan negeri ini atau setidaknya belajar membersihkan negeri ini. bukankah asas gotong royong juga berdasarkan berapa banyak individu-individu yang terlibat dalam menyelesaikan suatu permasalahan?

Mungkin pernyataan diatas lebih banyak keteori dan omong kosong, akan tetapi kita lihat contoh aplikatif dalam pernyataan diatas. Lingkungan anda tertutup oleh abu vulkanik pasca meletusnya sebuah gunung berapi, lalu orang-orang disekitar anda dan termasuk anda sendiri juga memilih untuk diam tanpa usaha membersihkan abu tersebut bahkan berpangku tangan menunggu orang lain membersihkanya, pola pikir kalian satu lingkungan sama. Maka apakah lingkungan kalian akan bebas atau bersih dari abu vulkanik? Tidak.

Lalu coba kita balik skenarionya. Lingkungan anda tidak peduli dengan abu vulkanik yang tebal dan terlanjur mengotori lingkungan anda. Lalu anda mencoba membersihkannya tapi tanpa mengajak orang lain disekitar lingkungan anda. Maka apa yang terjadi, mungkin lingkungan anda akan bersih tetapi dalam jangka waktu yang sangat lama dan tidak akan optimal.

Skenario terakhir adalah ketika anda mengajak orang lain dan orang lain mengajak orang lain lagi terlibat dalam upaya pembersihan abu vulkanik. Sampai akhirnya seluruh lingkungan anda berpartisipasi aktif dalam mengadakan perubahan ini. maka apa yang akan anda dapatkan? Anda dapat menyimpulkannya sendiri.

Begitu juga dengan keterlibatan anda dalam pemilu nanti. Mungkin anda menganggap satu suara tidak akan berdampak apapun. Namun 30% di Indonesia ini memiliki pola pikir yang sama dengan anda tanpa ada yang menyadarinya maka berapa banyak tangan-tangan kecil yang tidak terlibat dalam upaya perubahan. Dengan apatisme tersebut maka sudah tentu akan sulit membuat orang-orang yang apatis akan turut aktif terlibat dalam perubahan. Ah sudahlah kawan... mungkin ini hanya sebuah chaos theory yang saya rancang sendiri.

 “Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau rakyat Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh penguasa-penguasa korup mereka.”-soe hok gie

Atau jika terlibat dalam perubahan masih belum dapat dijadikan referensi, maka quote dari soe hok gie diatas dapat menjadi referensi lain. Menuntut hak demi mendapatkan keadilan. Dalam menyikapi demokrasi saat ini ada 3 pilihan yang dapat dilakukan, yang pertama adalah mencoblos demi menuntut hak kita, dengan menuntut hak kita maka kita menjemput keadilan yang kita inginkan. Lalu yang kedua adalah tidak mencoblos akan tetapi menyiapkan sebuah langkah revolusi lagi. Dengan revolusi harapannya dapat menata ulang kesalahan sistemik yang sudah ada dan melekat dan yang terakhir adalah menjadi apatis yang tidak terlibat dalam hal apapun, jika ditindas hanya bisa pasrah karena ditindaspun mereka sudah tidak akan peduli.


“karena saya cinta Indonesia maka saya mempunyai rasa memiliki terhadap negeri ini, dengan rasa memiliki itulah maka saya mempunyai motivasi yang kuat untuk terlibat dalam perubahan dinegeri ini.”

Jumat, 21 Februari 2014

Idealisme Aktivis Menghadapi Tantangan Realitas



The Founding Father Indonesia, Ir.Soekarno, pernah berpidato yang selalu dikenang sampai saat ini. beliau berkata “beri aku seribu orang tua maka akan kucabut semeru dari akarnya, dan berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia” begitu kurang lebih salah satu isi pidato beliau. Bung Karno kala itu melihat realitas yang ada bahwa pemuda merupakan ujung tombak sebuah perjuangan. Ditangan para pemuda pada waktu itulah proklamasi kemerdekaan Indonesia bisa dicapai dengan cepat tanpa ada mempertimbangkan intervensi dari pihak penjajah.

Sampai saat ini, kata-kata dari bung Karno itulah yang selalu melecut semangat pemuda dari tahun ke tahun. Kata-kata tersebut banyak melahirkan aktivis pemuda yang optimis terhadap potensinya, mandiri dalam kehidupannya, dan kritis dalam sikap serta perbuatannya. Dengan lahirnya banyak aktivis pemuda yang mempunyai idealis dan optimisme tinggi berkorelasi erat dengan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan dinegeri ini. dapat dilihat dari betapa cepatnya negara ini semakin maju dan mandiri setelah memperoleh kemerdekannya.

Aktivis pemuda seakan-akan tidak akan pernah ada habisnya, karena memang pemuda tidak akan pernah mati. Dimana masih ada kelahiran disanalah akan ada calon aktivis pemuda. Dengan regenerasi pemuda-pemuda inilah yang membuat negara ini tidak pernah kehabisan ide untuk memperbaiki kondisi negara ini.

Akan tetapi patut diperhatikan, tidak semua pemuda memilih jalan untuk menjadi aktivis. Bukan semata-mata mereka tidak ingin atau tidak peduli. Karena lebih kepada kebebasan masing-masing individu untuk memilih jalan hidupnya. Saat seorang anak tumbuh menjadi seorang pemuda disanalah mereka bebas dalam menentukan jalan hidup yang akan dipilihnya.

Banyak faktor juga yang mempengaruhi sikap pemuda dalam memilih jalannya, 2 faktor utama dapat kita lihat dari mazhab psikologi yaitu behaviorisme dan humanistik. Jika dilihat dari sudut pandang behaviorisme, maka pemuda memilih jalan hidupnya yang sekarang karena dipengaruhi faktor lingkungan yang membentuknya. Jadi lingkungan sangat intens dalam membentuk kepribadian dan jalan hidup seseorang.

Jika ditilik dari humanistik, maka ada faktor lain yang mempengaruhi pilihan pemuda dalam menentukan jalan hidupnya, yaitu faktor diri sendiri dalam menyerap apa yang ada dilingkungan ataupun menolaknya.

Idealis vs realitas

”idelisme tidak selalu berbanding lurus dengan realitas yang tampak, akan tetapi realitas menjadi tolak ukur sejauh mana tingkat idealisme itu sendiri”-rezky-

setelah memilih menjalani kehidupan aktivis, maka merekapun dituntut untuk kritis terhadap apa yang mereka lihat, rasakan, dan hadapi. Pemikiran mereka pun dituntut untuk mencari solusi bukan hanya kritik tanpa arti. Selain itu yang harus dihadapi para aktivis adalah mengaktualisasikan apa yang sudah dikritisi, dipikirkan, dan direncanakan di lingkungannya.

Biasanya para aktivis akan sulit menghadapi realitas yang ada karena berbeda dengan bayangan yang selama ini mereka pikirkan. Idealisme mereka dalam mengkritisi, berpikir, dan melakukan perubahan dalam perbuatan acapkali terhambat oleh realitas yang ada. Belum tentu A dalam kajian mereka akan sama dengan A dalam realitasnya. Oleh karena itu disinilah akan menjadi tolak ukur sejauh mana tingkat idealisme dan usaha mereka memperjuangkan idealisme mereka.


Jika mereka dapat mencari solusi atas perbedaan antara idealisme dan realitas yang mereka hadapi, maka mereka berhasil menaiki satu anak tangga menuju cita-cita mereka. Jika mereka hanya mengeluh terhadap realitas yang ada, maka runtuhlah idealisme yang selama ini mereka bangun.

Kamis, 13 Februari 2014

RASA MEMILIKI KEBIJAKSANAAN

                                                     (sebuah arti filosofi tentang filsafat)

Oke guys, kali ini gue lagi berfilsafat karena kebetulan setiap hari rabu bakalan ada mata kuliah yang bernama filsafat manusia. Dan kali ini juga otak gue terangsang untuk berfikir dan keluar dari jalur kebiasaan orang banyak yaitu nurut kata dosen. Entah kenapa biasanya gue itu juga termasuk mahasiswa yang nurut sama dosen, tapi kali ini engga karena ini mata kuliah filsafat dimana seharusnya gue bisa bebas berfikir sesuai dengan tingkat kemampuan pemikiran kita dan bahkan jika objek material filsafat itu adalah sesuatu yang ada dan kemungkinan ada, sudah seharusnya kita benar-benar bebas untuk berfikir.

Jadi inilah yang menjadi dasar gue tiba-tiba ngeberontak setiap belajar filsafat karena gue ngerasa gue bebas berfikir dan mengemukakan apa yang gue udah fikirin jadi bukan seharusnya kita tidak bisa berpendapat lagi atau pendapat kita dengan sepihak disalahkan oleh dosen, sudah bukan jaman orde baru lagikan. Dan kebebasan berpikir dan berpendapat gue hari ini seperti dikekang oleh dosen.

Yang jadi landasan gue pertama-tama dalam tulisan ini adalah kebebasan berfikir dan mengemukakan pendapat dimuka umum seperti yang ada di UUD 1945, lalu yang kedua adalah pernyataan dosen bahwa dalam berfilsafat itu tidak ada yang salah karena kebenaran pun masih bersifat relatif. Dan yang terakhir adalah dosen berkata bahwa semua objek pengamatan dia adalah guru bagi dia, oleh karena itu jika beliau sudah berpendapat demikian sudah seharusnya dosen harus memperhatikan dan memberikan kesempatan mahasiswa untuk berpendapat bukan dipotong begitu saja.

Hari ini saat gue berpendapat mengenai pertanyaan beliau tentang apa itu objek material dan objek formal, gue pun menjawab gini “pak, menurut saya objek material itu segala sesuatu yang ada di pikiran dan kemungkinan ada.....” belum sempat menyelesaikan argumen gue itu tiba-tiba dosen memotong kalau itu salah dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa filsafat. Alasan beliau mutlak kalau ingin berpendapat kita harus menggunakan bahasa filsafat.

Dari kasus pertama ini gue melihat beliau tidak terlalu konsisten dengan kata-kata beliau sebelumnya kalau dalam berfilsafat tidak ada yang salah, dan yang kedua gue harus mengajukan pertanyaan dulu sebelumnya. Apakah dulu socrates, aristoteles atau es-es yang lain saat berfilsafat beliau-beliau tersebut menggunakan kaidah baku bahasa filsafat, apakah sudah ada sebelumnya kaidah bahasa filsafat? Kalau dalam berfilsafat kita harus dibatasi oleh kemampuan kita dalam berkaidah baku bahasa filsafat yang belum tentu jelas kaidahnya, bukankah itu namanya pengekangan dalam berfilsafat itu sendiri? Dan bisa jadi itu malah membuat seseorang menjadi tidak kreatif dan berkembang karena harus memperhatikan kaidah yang semestinya tidak wajib ada.

Lagian kan belum tentu juga kata-kata socrates, aristoteles dan es-esnya tersebut merupakan asli kata-kata mereka tanpa perubahan dari penerjemah bahasa yunani yang menerjemahkan kata-kata mereka ke berbagai bahasa. Dan kalian tau apa jawaban beliau tentang pengertian dari objek material? Beliau menjawab “objek material adalah segala sesuatu yang ada dan kemungkinan ada.” Dan intinya apa yang gue katakan adalah sama seperti yang beliau ucapkan akan tetapi beliau tidak memberikan saya kesempatan untuk menyelesaikan apa yang saya katakan dan hanya karena bahasa saya tidak baku sesuai kaidah bahasa filsafat.

Lalu kasus yang kedua adalah ketika ditanyakan mengenai apa itu filsafat. Jika saya berkata sesuai textbook maka secara harfiah filsafat adalah cinta kebijaksanaan. Dalam etimologisnya philein itu cinta, sophos itu kebijaksanaan. Lalu beliau berkata definisi dari cinta itu apa? Saya dengan yakin menjawab bahwa cinta itu adalah rasa memiliki. Dan sekali lagi beliau menyalahkan pendapat/argumen saya tanpa saya berhak menjelaskan sebelumnya.

Oke gini, dasar saya berkata kalau cinta itu rasa memiliki adalah seperti ini. pertama-tama kita tidak bisa melihat definisi cinta itu secara literatur atau juga hanya memiliki satu sudut pandang. Tetapi disini saya berkata cinta itu adalah rasa memiliki karena cinta itu memang adalah rasa memiliki kita terhadap sesuatu. contoh gampangnya kalian cinta kepada ibu kalian? Itu berarti kalian punya rasa memiliki terhadap ibu kalian. Atau kita persempit lagi konteksnya. Kalian mempunyai pulpen, kalian otomatis mempunyai rasa memiliki terhadap pulpen tersebut, dan pulpen tersebut pasti akan kalian jaga dan dirawat dengan baik karena ada rasa memiliki atau cinta terhadap pulpen tersebut.

Jika seseorang melihat cinta dari satu sudut pandang maka mereka akan berpendapat cinta itu tidak harus mempunyai rasa memiliki. Oke kali ini gue berkomentar bullshit bagi orang-orang yang setuju dengan pendapat tersebut. Apakah cinta bisa tumbuh jika kita tidak mempunyai rasa memiliki terhadap objek yang kita cintai? Ambil contoh, kalian berkata cinta terhadap gebetan kalian? Lalu apakah kalian akan diam saja untuk menarik perhatian doi? Tidak ada usaha? Tidakkan? Pasti selalu ada usaha, dan usaha itu ada karena kalian mempunyai rasa memiliki terhadap gebetan kalian sehingga muncul usaha untuk melakukan itu walaupun belum tentu doi mempunyai rasa memiliki terhadap kalian.

Dalam konteks kenegaraan, jika kalian cinta terhadap bangsa ini. lalu apakah kalian tidak merasa punya rasa memiliki terhadap negeri ini? terhadap bangsa ini? terhadap apapun yang dimiliki bangsa ini baik SDA, SDM, sejarah, pendidikan, dll. Tentulah kalian mempunyai rasa memiliki terhadap bangsa ini oleh karena itu kalian mau berusaha dan mengabdi untuk bangsa ini.

Dan pada intinya, jika saya berargumen cinta itu adalah definisi dari rasa memiliki, sudah barang tentu bukanlah sesuatu hal yang harus disalahkan. Karena kalaupun segala argumen saya diatas salah, pasti ada beberapa orang yang menganggap dan merasakan hal sama terhadap apa itu cinta.

Kayanya itu sudah cukup menuangkan apa yang gue pikirkan selama berada dikelas filsafat yang dimana saya tidak bisa mengungkapkan pemikiran gue.

Rabu, 15 Januari 2014

KEINDAHAN UNTUK INDONESIAKU

Tulisan ini terinspirasi oleh tukang sapu di lingkungan UNS yang selalu membersihkan lingkungan UNS setiap pagi sampai menjelang siang, mereka melakukan hal tersebut selain karena tugasnya tetapi juga untuk membuat lingkungan UNS menjadi lebih indah. juga kepada pak anies baswedan yang dengan quotenya (“saya tetap membersihkan sepatu saya walaupun saya tau akan kotor kembali, akan karena itu tugas saya”) beliau berkata hal tersebut karena beliau cinta akan keindahan, lalu saya juga terinspirasi oleh setiap orang-orang yang selalu ingin menjadi lebih baik dalam hidupnya, mereka melakukan tersebut karena ingin menciptakan keindahan yang pada akhirnya memberikan nilai tambah bagi diri mereka.
 “manusia diciptakan untuk berbuat keindahan di muka bumi”-pak SetyoBudi-
Banyak definisi tentang manusia, mulai dari manusia itu sebagai makhluk sosial, makhluk individu, makhluk ekonomis, makhluk omnivora, dll. Apapun definisi tentang manusia itu bergantung kepada persepsi kita dalam memandang manusia melalui ilmu. Jadi semua pernyataan tentang definisi manusia itu adalah benar asalkan didasari oleh ilmu sebagai cara kita memandangnya.
Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang manusia sebagai makhluk yang diciptakan untuk berbuat keindahan dimuka bumi ini. keindahan yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah keindahan yang hanya memiliki satu definisi saja, akan tetapi keindahan disini memiliki banyak definisi yang pada intinya adalah sesuatu yang baik.
Seperti yang telah dicantumkan pada quote diatas bahwa manusia adalah makhluk yang dapat menciptakan keindahan dimuka bumi, sebagai contoh orang yang ingin menjadi lebih baik lagi setiap harinya adalah orang yang berbuat keindahan, menyanyi adalah keindahan, berpolitik adalah keindahan, menyeru pada kebaikan adalah keindahan, menuntut ilmu adalah keindahan, menjaga keamanan dan ketertiban adalah keindahan, berlaku jujur adalah keindahan, berprilaku berbangsa dan bertanah air adalah keindahan, berinovasi adalah keindahan, membantu adalah keindahan dan masih banyak lagi contoh keindahan yang dapat dibuat oleh manusia.
Dengan menciptakan keindahanlah manusia memiliki nilai lebih yang pada akhirnya membuat manusia itu dapat disebut berharga atau tidak berharga, berhargapun masih ada tinggkatannya yaitu berharga rendah atau berharga tinggi, Jika kita ingin berharga tinggi  tentu saja kita harus banyak menciptakan keindahan.
Selain berharga rendah atau berharga tinggi, kita pun masih mempunyai pilihan untuk menjadi hanya berharga dimata manusia ataupun dimata Tuhan, walaupun tingkat korelasi antara berhaga dimata manusia akan membuat kita berhara dimata Tuhan juga akan tetapi hal ini tetap patut diperhitungkan, karena mungkin saja manusia yang sudah berharga dimata manusia belum tentu dapat berharga dimata Tuhan karena mungkin belum memiliki keimanan. contohnya adalah Albert Einstein, beliau adalah seorang yang berharga dimata manusia dengan banyak penemuan dan rumus-rumus yang membuat maju peradaban manusia, contohnya yang paling fenomenal adalah rumus e=MC2 sebuah rumus yang merubah hidup manusia. Sebuah rumus yang pada akhirnya menciptakan “little boy” sebuah bom atom yang meluluhlantakan Jepang pada perang dunia kedua. Namun bukan karena bomnya itu yang membuat Albert Einstein belum tentu berharga dimata Tuhan, namun karena ia adalah seorang yang tidak beragama. Walaupun beliau pernah berkata:
agama tanpa sains adalah timpang, sains tanpa agama adalah buta”-albert einstein-

Perintah agama
Dalam surat ar-Rum ayat 41, Allah SWT berfirman:
 "Telah nyata kerusakan di darat dan di laut dari sebab perbuatan tangan manusia, supaya mereka deritakan setengah dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali."-Q.S Ar-Rum:41-
Dalam surat diatas secara eksplisit sesungguhnya Allah SWT telah menyuruh manusia untuk menciptakan keindahan dimuka bumi dengan menampakkan contoh kerusakan yang telah manusia lakukan dimuka bumi. Setiap detik manusia lahir dimuka bumi adalah untuk memperbaiki kerusakan tersebut dengan menciptakan keindahan. Allah memberikan contoh kerusakan nyata yang manusia lakukan di darat dan dilaut karena Allah ingin menyuruh kepada manusia untuk menghentikkan kerusakan tersebut dengan berbuat keindahan.
Dalam hadist juga menyebutkan bahwa Allah itu mencintai keindahan, yaitu:
"Sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha indah dan mencintai keindahan". (HR. Thabrani dan Al Hakim)
Dengan hadist tersebut jelaslah bahwa Allah sesungguhnya secara tidak langsung menyuruh kepada manusia untuk selalu berbuat keindahan. Dengan berbuat keindahan maka Allah akan mencintai orang tersebut karena sesungguhnya Allah mencintai keindahan.
Walaupun ditulisan ini hanya dibahas tentang perintah dari agama islam tetapi tidak menutup kemungkinan didalam ajaran agama-agama lain juga menyeru kepada umatnya untuk selalu berbuat keindahan dimuka bumi.
Orang-orang yang merusak keindahan
Dizaman sekarang sudah banyak orang yang telah merusak keindahan dimuka bumi. Kita selama ini telah dihadapkan kepada persoalan pelik dinegeri ini. adanya koruptor yang mengkorupsi uang rakyat sehingga membuat kesejahteraan rakyat menurun. Lalu ada illegal logging yang membuat bencana alam seperti banjir dan tanah longsong sehingga menimbulkan korban nyawa yang tak bersalah. Selain itu kita pun masih dihadapkan kepada persoalan “gencet-gencetan” elite politik menjelang pemilu yang mungkin saja dengan hal tersebut membuat mereka lupa terhadap tugas dan kewajibannya untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat. Belum lagi jika melihat keadaan dari rakyat Indonesia yang masih bermental malas, tidak peduli, tidak ingin bekerja keras sehingga lengkaplah kerusakan yang dibuat bangsa Indonesia mulai dari pemimpinnnya sampai rakyatnya.
Selain masalah pelik diatas, masih ada lagi masalah yang lebih pelik dalam kehidupan bangsa ini, yaitu rakyat menyalahkan pemimpinnya, pemimpin juga menyalahkan rakyatnya. Rakyat menyalahkan pemimpinnya atas keadaan yang ada pada dirinya, jika dia miskin maka dia menyalahkan korupsi, jika dia dipenjara maka dia menyalahkan hukum, jika dia tidak berilmu maka dia menyalahkan kebijakan yang membuatnya tidak bisa mendapatkan ilmu, padahal mereka hanya perlu untuk berusaha lebih karena telah banyak contoh orang-orang yang hidup di negeri ini dengan usaha lebih dapat memperoleh sukses yang merubah kehidupan mereka.
Lalu pemerintah juga menyalahkan rakyatnya. Rakyat tidak patuh terhadap kebijakan yang mereka buat dan Rakyat tidak mau turut serta dalam pembangunan, padahal usaha pemerintah untuk mensosialisasikannya saja masih kurang. Dan masih banyak lagi bentuk salah-menyalahkan antara pemerintah dan rakyatnya dinegeri ini. dan semua itu merupakan bentuk merusak keindahan. Padahal jika antara masyarakat dan pemerintah mau bersatu, bersinergi untuk membangun bangsa ini maka hal tersebut merupakan upaya menciptakan keindahan.
Lalu bagaimana kita mau dianggap berharga dan diberi pertolongan oleh Tuhan jika kita masih berbuat kerusakan di tanah Indonesia ini. dengan keadaan yang seperti ini sangat sulit untuk merubah keadaan bangsa ini menjadi lebih baik, karena perubahan yang lebih baik sesungguhnya harus dimulai dari orang-orang yang terlibat dalam perubahan tersebut seperti yang telah difirmankan dalam Al-Quran surat Ar-Raad ayat 11: “sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah keadaan yang ada pada dirinya.”
Dan pada akhirnya, penulis hanya bisa berusaha, mengajak serta berdoa supaya semakin banyak manusia terutama di bangsa ini yang ingin berbuat keindahan untuk bangsa ini sehingga bangsa ini berharga dimata manusia maupun dimata Tuhan. Dengan berharganya bangsa ini dimata manusia dan terutama dimata Tuhan maka diharapkan bangsa ini dapat menjadi bangsa yang besar, maju, dan diperhitungkan dalam pergaulan global. Selain itu bangsa ini dapat hidup sejahtera dan makmur dengan usaha mereka sendiri.


Minggu, 05 Januari 2014

HALL OF FAME


“yeah, you could be the greatest,  You can be the best,
  You can be the kingkong, banging on your chest”

Judul hall of fame diatas sebetulnya merupakan sebuah judul lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh band asal Irlandia yaitu the script. Lagu ini mengisahkan tentang setiap orang bisa menjadi apapun seperti yang mereka kehendaki, ingin menjadi pilot, politikus, pengacara, dokter, guru, bahkan sampai astronot sekalipun. Lagu ini telah mengispirasi banyak orang-orang didunia .

You could beat the world,  You could beat the war
  You could talk to god, go banging on his door”

                Akan tetapi disini saya tidak akan membahas tuntas tentang lagu ini, ataupun betapa lagu ini menginspirasi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan ingin menggapai cita-cita saya. Ditulisan ini dan dengan lagu ini saya akan mencoba untuk berbagi inspirasi tentang menggapai mimpi dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

you can throw your hands up, You can beat the clock
  You can move the mountain, You can break rocks,
  You can be the master, Dont wait for luck
  Dedicate yourself and you can find yourself”

                Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan untuk menjadi apapun yang mereka inginkan, coba kita kilas balik pada saat dimana manusia belum menemukan roda, belum menemukan kendaraan, belum menemukan alat telekomunikasi, belum bisa keluar angkasa dan lain sebagainya sampai akhirnya dizaman sekarang ini manusia telah memiliki kemampuan untuk menghasilkan mimpi-mimpi mereka. Sekarang manusia sudah dapat berkendara, berkomunikasi, bahkan menjelajah angkasa. Manusia mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk menjadi dan menggapai apa yang mereka inginkan. Salah satu kuncinya ada di lirik lagu diatas yaitu “dedicate yourself and you can find yourself”. Kalian hanya perlu mendedikasikan diri anda menjadi apa yang anda mau dan anda akan menemukan jalan anda menjadi apa yang anda inginkan.

"anda dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. sekarang terserah anda, mau jadi bagian dari orang yang luar biasa atau menjadi pecundang diantara orang-orang yang luar biasa"-Rezky-

                Mungkin saja pernyataan saya diatas tidak sepenuhnya benar, akan tetapi coba anda lihat lebih dalam lagi dengan keadaan disekitar anda. Anda akan melihat begitu banyak orang-orang hebat dan luar biasa mengelilingi anda, akan tetapi karena anda kurang peka anda tidak dapat melihat begitu banyak orang luar biasa disekitar anda. Orang-orang yang luar biasa itu jumlahnya tidak sedikit, melainkan banyak orang-orang disekitar anda dipenuhi dengan bakat-bakat dan karunia yang luar biasa.

                Lalu, pilihan yang anda punya sekarang adalah ingin menjadi bagian dari orang-orang yang luar biasa tersebut, atau hanya menjadi pecundang diantara orang-orang yang luar biasa?

                Setelah sadar akan begitu banyaknya orang-orang yang luar biasa yang mengelilingi anda, sekarang lihat kedalam diri anda sendiri, potensi apa yang anda miliki untuk menjadi bagian dari orang-orang yang luar biasa tersebut. Jika anda memiliki potensi dibidang keilmuan, kedokteran, politik, inspirator, atlet atau apapun itu maka kembangkanlah potensi tersebut. Seperti yang telah dikemukakan diatas “dedicate yourself and you can find yourself”.

                Setelah menemukan potensi, bakat dan kemampuan anda, sekarang silahkan mengembangkannya. Mungkin akan banyak halang rintangan yang akan dihadapi kedepannya, akan tetapi jika anda tidak mampu menghadapi halang rintang tersebut maka anda tidak akan mencapai apa yang anda inginkan sekalipun anda memiliki potensi, bakat dan kemampuan. Anda selalu mempunyai pilihan untuk bangkit disaat anda terjatuh, anda selalu punya pilihan untuk berjalan atau berlari mengejar mimpi anda, anda selalu mempunyai pilihan untuk lanjut atau berhenti dalam menggapai cita-cita anda. Dan semua itu akan menjadi buah yang dapat dipetik saat buah itu telah siap untuk dipetik.

                Pilihan untuk menjadi dokter, insyinyur, guru, pelukis, astronot, politikus, wirausahawan bahkan presidenpun anda dapat raih. Sekarang tinggal usaha yang anda lakukan untuk menuntun diri anda menuju apa yang anda inginkan.

“standing in a hall of fame, and the world’s gonna know your name,
 Cause your burn with the brightest flame, and the world’s gonna know your name,
And you’ll be on the walls of the hall of fame”

                Sudah banyak contoh didunia ini baik dimulai dengan kehidupan yang sangat miskin sampai sangat kayapun semua orang dapat sukses. Semua orang mempunyai hak untuk ada di the walls of the hall of fame, karena semua orang bisa dan mampu mewujudkannya. Semua itu bukan terjadi karena kebetulan semata, akan tetapi semua itu merupakan wujud dari semua usaha yang kita lakukan untuk menggapainya.

“Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik  yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.”-Harun Yahya-

                Begitu banyak keajaiban akan tetapi bukan sebuah kebetulan dalam kehidupan ini, semuanya merupakan usaha yang kita lakukan untuk memperoleh keajaiban tersebut. Saya sampai saat ini masih terinspirasi oleh kata-kata Andrea Hirata dalam buku Endensor “bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi itu”, keajaiban itu bisa saja datang setelah Tuhan sudah memeluk mimpi kita dan kita sudah berusaha untuk meyakinkan Tuhan untuk memeluk mimpi-mimpi kita. Yang jelas semua usaha anda tidak ada yang sia-sia.
“aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku kehidupan yang ujungnya tidak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar kearah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang demintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan saripati hidup!”-Andrea Hirata, Edensor-

                Pada akhirnya, silahkan cari potensi, bakat, kemampuan anda, kembangkan dan dedikasikan hidup anda dalam mimpi-mimpi tersebut sampai anda menemukan diri anda sebenarnya, arungi kehidupan dan nikmati setiap usaha dan jerih payah anda dalam mewujudkan mimpi-mimpi tersebut sampai Tuhan yakin bahwa mimpi tersebut adalah pantas sehingga Tuhan pun memeluk mimpi anda, dan bersiaplah berada di HALL OF FAME.


Jumat, 27 Desember 2013

Esensi Kegiatan Jalan Kaki


Jalan kaki merupakan sebuah aktivitas yang sangat dasar bagi manusia. Saat masih berumur 2 tahun pun kita sudah diajarkan untuk berjalan. Selain itu dengan jalan kaki kita dapat menjangkau tempat apapun yang kita mau jangkau didunia ini. Jika kita ingin ke puncak gunung kita harus jalan kaki, ingin menyusui gua tentu harus jalan kaki. Jadi jalan kaki ini merupakan sebuah kebutuhan pokok bagi manusia dalam menjalankan hidupnya.
Bagi saya, jalan kaki itu merupakan sebuah anugerah yang besar, entah mulai kapan saya suka jalan kaki. Kemana saya pergi biasanya saya mendahulukan jalan kaki terlebih dahulu daripada memilih naik sebuah kendaraan. Karena bagi saya, jalan kaki itu mempunyai esensi yang luar biasa banyaknya.
Kebiasaan jalan kaki ini masih tertanam pada diri saya, kemanapun dan dimanapun saya berada. Saya menikmati betul dengan aktivitas yang satu ini karena dengan berjalan tentu kita lebih sehat dan kuat. Namun bagi saya tidak hanya sampai disitu saja esensi dari sebuah aktivitas yang ringan ini.
Saya menjadi lebih peka terhadap keadaan dilingkungan sekitar saya ketika saya jalan daripada naik kendaraan. Saya bebas melihat apapun yang saya ingin dan tidak saya ingin. Banyak pelajaran yang saya petik dari setiap perjalanan baik perjalanan panjang maupun yang hanya berjarak 100m dari rumah.
Saat berjalan, saya melihat realita nyata tentang keadaan di negeri ini dimana kemiskinan, kebersihan, kriminalitas, rendahnya moral, dan lain-lain yang biasa saya lihat dimedia massa. Suatu realita yang mencerminkan bagaimana kondisi negeri saya sekarang ini. Sebuah realita yang secara tidak langsung menampar keras pipi saya untuk sadar dengan keadaan dan kenyataan yang ada. Disaat saya bersenang-senang menikmati kuliah bersama teman-teman lain, diluar sana banyak yang mengemis mencari uang, bukan untuk sekolah apalagi kuliah, mereka hanya sekedar ingin memenuhi kebutuhan dasar biologis mereka yaitu mencari makan. Karena tanpa makanan bisa saja mereka mati kelaparan dijalanan.
Disaat saya kuliah dan sibuk menuntut pemerintah untuk menurunkan angka kriminalitas, diluar sana banyak kriminalitas yang terjadi, macam-macam kriminalitas ada di jalanan. Mengapa ada yang namanya kriminalitas? Apakah itu sebuah hobi? Tentu saja tidak tapi mungkin saja sebagian iya. Tapi pada dasarnya tingginya angka kriminalitas tersebut karena ada alasan yang menjadi landasan mengapa mereka menjadi seorang penjahat.
Disaat saya kuliah dan sibuk menuntut pemerintah agar membrantas korupsi, diluar sana banyak kejadian korupsi kecil yang saya lihat tetapi saya lemah tidak dapat berbuat apa-apa. Lalu kontribusi apa yang membuat saya berani menuntut pemerintah untuk membrantas korupsi. Kontribusi paling dasar saya adalah kepedulian saya terhadap kondisi bangsa ini karena menjadi bangsa yang dikenal dengan tingginya angka korupsi.
Lalu baru-baru ini, tepatnya setelah turun dari kereta senja utama jurusan Jogjakarta-Jakarta, saya memutuskan untuk berjalan kaki dari Jatinegara sampai pulomas. Bukan betapa jauhnya jarak dari Jatinegara-Pulomas yang ingin saya ceritakan. Akan tetapi pada sebuah pengalaman yang saya lihat sendiri dijalan raya, yaitu sebuah ajang balapan liar. Padahal balapan liar tersebut terjadi didepan LP Cipinang, dan didaerah Cipinang terdapat banyak kantor intansi Polisi. Lalu mengapa masih marak yang namanya balapan liar? Apakah polisi menunggu sampai waktu yang tepat untuk merazia? Ataukah mereka tahu tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Atau bisa saja mereka pura-pura untuk tidak peduli? Atau paling parahnya mereka memang sudah tidak peduli? Berspekulasi terhadap pak polisi ini rasanya kurang tepat, karena tidak cukup dengan mengandalkan polisi yang mempunyai personel terbatas untuk menjalankan tugasnya.
Dilihat dari sisi balap liar, tentu saja balap liar ini lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Balapan membutuhkan bensin, bahkan mereka menggunakan bensin yang disubsidi, lebih parahnya bensin tersebut digunakan untuk ajang balap liar yang mungkin saja dapat menimbulkan korban jiwa. Lalu jika sudah terjadi seperti ini, sudah akan samar-samar siapa yang bersalah dan berdosa, apakah pemerintah yang dengan subsidi BBMnya ataukah pelaku balap liar itu sendiri, ataukah orang tua dari pelaku balap liar, ataukah polisi, ataukah masyarakat, dan masih banyak lagi. Segalanya menjadi samar-samar dalam kasus balap liar ini.
Selain balap liar, saya masih melihat fenomena nyata yang terjadi saat saya berjalan kaki pulang dari Jatinegara-Pulomas, yaitu lapak perzinahan disamping rel kereta, lebih tepatnya juga didepan LP Cipinang. Apakah lapak ini dibuat sengaja dan dikenakan pajak oleh pemerintah atau setidaknya oleh lurah setempat? Ataukah tempat ini memang sudah difungsikan dari dulu kala sebagai tempat perzinahan? Entahlah, yang jelas sangat mengglitik saya melihat fenomena seperti ini.
Itulah sedikit esensi yang bisa kita dapatkan dari jalan kaki. Semoga kita dapat lebih peka terhadap keadaan disekitar kita dan syukur-syukur kita bisa mencarikan sebuah solusi yang solutif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada dinegara ini, dan semoga semua solusi itu berawal dari aktivitas yang bernama Jalan Kaki.

Saya dan Status Mahasiswa Baru


Tulisan ini merupakan curahan hati seorang mahasiswa baru yang baru saja melewati semester satu disebuah universitas negeri di kota solo. Bukan sebuah tulisan yang serius, akan tetapi lebih kepada pandangan seorang penulis terhadap gejala-gejala yang selama ini penulis tangkap dalam kehidupan disemester satu. Enjoy!!!

Tak terasa betul satu semester ini telah dilewati, masuk kesemester ini pun merupakan sesuatu yang sangat tidak sengaja dan sangat tidak pernah diduga sebelumnya. Saya dulu bercita-cita menjadi seorang perwira dengan pangkat di bahunya beserta kegagahan lain layaknya seorang perwira. Bahkan untuk mewujudkan cita-cita tersebut, saya harus merelakan 1 tahun hanya untuk memenuhi syarat yang diminta oleh panitia penyeleksi.

Tapi apa daya jika nasib tahun ini tidak kunjung membawa saya kepada cita-cita yang saya inginkan. Lalu apakah saya harus menyerah dengan sebuah kenyataan bahwa saya mengalami suatu kegagalan? Dalam bukunya Prie G.S berkata ada 4 cara untuk menghadapi kegagalan, cara yang pertama adalah sakit menghadapi kegagaln tersebut dan menghibur diri dengan memberikan nasihat-nasihat bijak. Lalu cara kedua dengan cara memprotes keputusan panitia penyeleksi, tapi cara ini bukanlah cara saya dalam membuat hati saya tentram setelah mengalami kegagalan.

Cara yang ketiga agak sedikit tidak waras dan lebih baik jangan dilakukan, yaitu berpura-pura lulus seleksi dan membeli sebuah seragam layaknya seorang perwira. Atau cara terakhir yaitu cara yang saya pilih,yaitu menikmati kegagalan ini dengan berkata saya boleh gagal dalam sebuah seleksi, tapi saya tidak akan gagal dalam hidup. Itulah yang saya pegang teguh selama ini dan mungkin juga yang membuat saya dapat menjadi seorang mahasiswa.

Dengan menikmati sebuah kegagalan tersebut, saya mengambil banyak hikmahnya, yaitu berat badan saya menjadi ideal, saya menjadi lebih disiplin, saya menjadi lebih tangguh, menjadi lebih kritis dan peka terhadap keadaan, dan yang terakhir mengubah persepsi dalam hidup saya bahwa hidup saya tidak harus selalu menjadi militer akan tetapi jika saya ingin menjadi warga sipil pun saya bisa sukses layaknya seorang perwira.

Status sebagai mahasiswa baru tidaklah buruk seperti yang selama ini saya bayangkan, bahkan status mahasiswa baru ini menambah khazanah pengetahuan yang saya miliki. Mengubah persepsi, mengubah ideologi, mengubah cara pikir, dan menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelum-sebelumnya. Sebagai contoh dulu saya berpikir bahwa sebuah aksi demonstrasi adalah hal yang sangat mengganggu dan tidak bermanfaat, akan tetapi setelah saya menjadi mahasiswa, saya melihat sebuah aksi ini sangat perlu dinegara yang “katanya” menjunjung tinggi demokrasi. Sekaligus aksi ini sebagai salah satu cara untuk mengawal pemerintahan yang ada dinegara ini.

Bahkan tidak hanya sekedar mengawal, akan tetapi aksi ini juga sebagai sarana refleksi bagi diri sendiri bahwa masalah dinegara ini sangat pelik dan butuh penyelesaiannya, dan bagaiamana penyelesaiannya? Yaitu mahasiswa dan pemuda-pemuda lainlah yang akan menjadi cikal bakal pemimpin bangsa ini kedepannya. Ditangan para pemuda inilah nasib bangsa Indonesia digantungkan. Seberapa besar kualitas pemudanya akan sangat menentukkan nasib bangsa ini kedepannya.

Hanya cukup sampai disana? Tentu tidak, aksi pun mengingatkan kita bahwa perjuangan itu tidaklah mudah, karena dalam menjalani sebuah aksi, kita akan mendapat pujian dan lebih banyak cacian dari orang-orang yang awam dan apatis terhadap aksi ini. Selain itu aksi juga merupakan sebuah bentuk kepedulian kita bagi negara ini. Aksipun dapat memunculkan banyak solusi-solusi kecil yang akan membantu negara ini berkembang, tidak perlulah kita membuat solusi-solusi besar karena solusi-solusi kecilpun pada akhirnya akan berkembang menjadi solusi besar, ambil contoh seperti “Indonesia Mengajar” yang digagas calon presiden 2014 yang juga rektor Universitas Swasta terkenal.

Selain mengubah paradigma saya, menjadi mahasiswa pun ternyata seperti sebuah kehidupan yang saya nanti-nantikan, karena dengan menjadi mahasiswa, saya dapat dengan bebas mengeluarkan pikiran-pikiran saya walaupun hanya melalui sebuah tulisan. Dengan status mahasiswa pula kita dapat lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang yang memiliki persepsi, pandangan, paradigma, ideologi masing-masing, sehingga hal ini seperti layaknya Universitas Terbuka dimana Dosennya pun berasal dari kalangan apapun asalkan kita mau menerima mereka untuk memberikan ilmunya kepada kita. Jika kita hanya pasif menunggu, jelaslah bahwa akan sulit bagi kita untuk mendapatkan ilmu seperti ini.

Status mahasiswa pun menjadikan saya lebih bijak dalam melihat dan mengambil sebuah peluang dan keputusan. Hal yang selama ini sangat sulit didapatkan dalam kehidupan saya sebelumnya. Dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan yang ada di kampus, maka kita harus dengan bijak menyeleksinya agar ilmu yang ingin kita dalami dan kita ambil dapat kita dapatkan secara utuh. 

Sangat sayang bagi seorang mahasiswa jika hanya diam dikost, belajar dari buku-buku yang mungkin dimasa mendatang teori dari buku tersebut sudah tidak berlaku lagi, mengejar sebuah IP, dan lulus sebagai mahasiswa biasa saja tanpa meninggalkan kesan yang berbekas dibangku kuliah. Ibarat seekor kuda yang memakai kacamata kuda, pandangannya hanya lurus kearah yang diinginkan pawangnya, tanpa bisa melihat potensi kebahagiaan dikanan dan kirinya. 

Lalu apakah salah menjadi seorang yang seperti itu? Tentu tidaklah salah, karena setiap orang mempunyai caranya untuk menentukkan jalannya masing-masing, atau biasa kita sebut sebuha passion dan mereka juga mempunyai prioritas yang harus didahulukan daripada harus aktif dikampusnya. Bisa jadi mahasiswa seperti ini tidak aktif dikehidupan kampus, tetapi dia aktif dikehidupan sosial secara langsung.

Pada akhirnya, sebagai seorang mahasiswa baru yang secara tidak sengaja terjebak didunia kampus ini mengambil kesimpulan bahwa mahasiswa itu bebas, bebas menentukan passion kita, bebas menentukkan prioritas kita, bebas menjadi apa saja yang kita inginkan. Hal inilah yang selama ini diperjuangkan oleh mahasiswa-mahasiswa dizaman Orde Baru, dimana mereka tidak bisa berkembang dan tidak bisa bebas. Selain itu inilah yang bisa disebut sebagai pengamalan nilai-nilai demokrasi.